Bacaan Online Jagat Satria

duniaabukeisel@jagatsatria

Traffic

Hari ini205
Kemarin287
Minggu ini682
Bulan ini4356
Total370321

SAYAP-SAYAP YANG TERKEMBANG

Karya: SH Mintardja

Jilid 62

 

SEJENAK kemudian, maka kentongan di gardu dalam telah mengumandangkan isyarat bagi para prajurit yang bertugas untuk berhati-hati. Suara kentongan itu mengisyaratkan, bahwa ada sekelompok orang jahat yang berada di dalam lingkungan dinding kota.

Sementara itu Kasadha, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung berlari terus. Mereka menyelinap jalan-jalan sempit langsung menuju ke barak.

Namun Kasadha benar-benar telah mengenali jalan-jalan di seluruh kota itu dengan baik. Karena itu, maka ia sama sekali tidak menjadi bingung. Bahkan Kasadha dapat menemukan jalan pintas yang paling dekat menuju ke baraknya.

Suara kentongan itu masih mengumandang. Kentong-an-kentongan yang lainpun telah menyambutnya, sehingga seluruh kotapun telah digoncang oleh isyarat itu.

Para prajurit di gardu-gardu telah bersiap. Para peronda yang mendengar isyarat itupun menjadi semakin teliti mengamati keadaan. Bahkan beberapa orang peronda telah berhenti di simpang-simpang empat dan simpang tiga.

Tetapi mereka tidak melihat seorangpun yang lewat. Sementara itu, Kasadha, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung masih berlari menyusup jalan-jalan sempit dan bahkan jalan setapak. Semakin lama menjadi semakin dekat dengan pintu gerbang regol barak prajurit yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Jayayuda.

Namun Kasadha memang harus berhati-hati. Sekali-sekali ia harus berhenti mengamati jalan yang akan diseberangi jika mereka tidak melihat sesuatu, maka merekapun segera berloncatan melintasi jalan itu.

Jarak untuk mencapai barak semakin sempit. Tetapi jalan menjadi semakin sulit. Kentongan yang masih saja berbunyi bahkan di seluruh kota membuat para prajurit semakin bersiaga.

Ketika Kasadha berlari sampai ke mulut lorong, maka ia harus berhenti dan bahkan bergeser mundur. Empat orang prajurit berkuda telah melintas. Tidak terlalu cepat.

Kasadha menahan nafasnya sambil memberi isyarat kepada ketiga orang yang lain. Baru kemudian, Kasadha itu menganggap bahwa jalan menjadi sedikit aman. Jika mereka berhasil menyeberangi jalan itu, dan menyusuri jalan sempit beberapa puluh langkah, maka mereka akan sampai ke jalan yang lebih besar yang langsung menuju ke pintu gerbang baraknya.

Tetapi jarak yang tinggal sedikit itu justru sukar untuk dilampaui. Kasa-rasanya jalan-jalan menjadi penuh oleh prajurit yang berkeliaran.

Namun Kasadha harus berani mengambil sikap. Mungkin ia harus berlaku kasar lagi. Tetapi ia harus sampai ke tujuan.

Karena itu, maka sejenak kemudian, Kasadha itu berbisik di telinga Risang, “Kita akan berlari sekencang-kencangnya. Mungkin ada peronda yang melihat kita dan mengejar. Tetapi kita akan dapat mencapai pintu gerbang itu lebih dahulu.”

Risangpun mengangguk, Iapun memberi isyarat kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Dengan demikian, maka merekapun harus membangunkan tenaga dalam mereka untuk dapat mencapai sasaran secepat-cepatnya.

Ketika jalan menjadi sepi, maka Kasadhapun segera memberi isyarat. Dengan cepat sekali keempat orang itupun berlari melintas, dan hilang di lorong sebelah.

Tetapi ternyata dua orang prajurit peronda melihat mereka. Dua orang prajurit peronda yang berjalan kaki menyusuri tepi jalan.

Karena itu, maka kedua orang itupun segera meloncat berlari mengejar keempat orang yang menghilang ke dalam lorong sempit itu.

Kedua orang prajurit itu menjadi bingung sesaat, mereka kehilangan buruannya. Tetapi karena mereka melihat keempat orang itu memasuki lorong sempit itu, maka merekapun telah berlari menyusuri jalan itu pula.

Kasadha dan ketiga orang yang lain menyadari bahwa dua orang prajurit tengah mengejar mereka. Karena itu, maka mereka tidak mungkin untuk berhenti dan menempuh jalan kembali.

Tetapi demikian mereka sampai ke jalan yang lebih besar yang langsung akan sampai ke barak mereka, Kasadha melihat beberapa orang prajurit yang sedang meronda lewat. Seperti yang lain, mereka tidak berjalan terlalu cepat.

“Gila,” geram Kasadha. Dalam waktu yang singkat ia harus mengambil keputusan. Apakah berempat mereka akan berlari terus, atau mereka terpaksa kembali menghadapi dua orang prajurit yang mengejar mereka.

Kasadha tidak mempunyai pilihan lain. Ia merasa lebih aman untuk menghadapi kedua orang prajurit yang berlari mengejar mereka.

Dengan tangkasnya Kasadhapun kemudian meloncat ke atas dinding halaman sambil memberi isyarat kepada Risang dan kedua orang yang lain, sehingga merekapun telah berloncatan pula hinggap di atas dinding. Namun merekapun segera menelungkup agar tidak mudah dapat dilihat.

Sejenak kemudian, dua orang prajurit itu berlari di jalan sempit di bawah keempat orang yang menelungkup di atas dinding halaman itu. Namun kedua orang prajurit itu tidak sempat melihat, apalagi dalam gelapnya malam.

Kasadha dan ketiga orang yang lain, yang menelungkup di atas dinding halaman itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka masih tetap harus berhati-hati. Bahwa kedua orang prajurit itu tidak melihat mereka, belum berarti bahwa mereka telah terlepas dari kemungkinan buruk itu.

Yang harus mereka pikirkan kemudian adalah bagaimana mereka menyusuri jalan sampai ke gerbang barak Kasadha itu.

Untuk beberapa saat keempat orang itu masih tetap menelungkup di atas dinding halaman itu.

Sementara itu kedua orang prajurit yang berlari melintasi jalan kecil itu telah sampai ke jalan yang lebih besar. Demikian keduanya muncul, maka prajurit yang berada di jalan yang lebih besar itu telah berlari ke arah mereka. Namun keduanya ternyata juga prajurit yang bertugas.

Bahkan salah seorang prajurit yang muncul di jalan itu bertanya, “Apakah kalian melihat empat orang yang berlari menyusuri lorong sempit itu memasuki jalan ini.”

“Tidak,” jawab prajurit yang berada di jalan itu. “Aku yakin, mereka memasuki lorong itu. Aku mengejar mereka. Tidak ada jalan simpang, sehingga mereka tentu akan muncul di mulut lorong ini.”

“Tetapi mereka tidak muncul disini,” jawab prajurit yang bertugas di jalan itu.

“Aneh,” desis salah seorang dari kedua orang prajurit yang mengejarnya itu.

“Kita lihat sekali lagi. Apakah mereka ada di lorong sempit itu,” berkata prajurit yang bertugas di jalan itu.

Beberapa orang prajurit segera memasuki lorong itu. Tetapi dua di antara mereka tetap berdiri di mulut lorong.

Kasadha ha menyadari, bahwa para prajurit itu tentu akan memperhatikan lorong itu dengan lebih teliti. Karena itu, maka Kasadha itupun segera memberi isyarat kepada yang lain untuk meloncat saja masuk ke halaman.

Dengan kemampuan mereka yang tinggi, maka keempat orang itu telah meloncat memasuki halaman di pinggir lorong itu tanpa menimbulkan bunyi sama sekali. Dengan jantung yang berdebaran mereka duduk bersandar dinding sambil mendengarkan, apa yang terjadi di lorong itu.

Ternyata para prajurit itu sudah menutup lorong itu dari ujung sampai ke ujung.

Para prajurit yang ada di mulut lorong seberang menyeberang, telah menghubungi kawan-kawan mereka yang ada di jalan yang lebih besar untuk mengawasi jika keempat orang itu tiba-tiba saja muncul.

Kasadha dapat mendengar teriakan-teriakan dan perintah-perintah dari para perwiranya sehingga rasa-rasanya lingkungan itu sudah tertutup rapat.

Kasadha memang menjadi semakin marah. Tubuhnya yang letih serta ketegangan yang mencengkamnya selama perjalanannya ke Madiun telah membuat darahnya cepat mendidih.

Namun ia harus mengekang diri. Bagaimanapun juga ia akan dapat dianggap bersalah jika ia melawan para prajurit yang sedang bertugas itu. Bahkan ia telah menyerang dua orang prajurit yang bertugas di pintu gerbang sehingga pingsan.

Dalam pada itu, para prajurit peronda itu masih sibuk mencari empat orang buruan yang tiba-tiba saja hilang. Namun tiba-tiba saja terdengar salah seorang prajurit yang berteriak, “Mungkin mereka meloncat masuk ke dalam halaman di sebelah jalan ini.”

“Mungkin sekali,” sahut yang lain. “Dinding ini cukup tinggi. Tetapi bukannya tidak mungkin untuk diloncati.”

Karena itulah, maka terdengar perintah, “Cari. Masuk ke halaman sebelah menyebelah jalan.”

Kasadha yang mendengar perintah itu menggeram. Ia sadar, bahwa keadaan menjadi semakin gawat. Karena itu, maka iapun memberi isyarat kepada ketiga orang yang lain untuk bergeser meninggalkan tempatnya masuk ke dalam halaman itu lebih dalam lagi. Bahkan akhirnya mereka telah melintasi batas-batas halaman mendekati arah pintu gerbang barak Kasadha yang ada di pinggir jalan yang lebih besar dari lorong yang terakhir mereka lintasi.

“Kita akan bersembunyi di halaman yang berseberangan dengan pintu barak itu,” berkata Kasadha. “Demikian kita meloncat, kita akan segera sampai ke pintu gerbang.”

Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya mengikutinya saja. Dengan sangat berhati-hati mereka kemudian telah bersembunyi di sebuah halaman yang letaknya hampir berseberangan dengan barak pasukan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Jayayuda.

Tetapi mereka tidak segera dapat menyeberang. Seandainya mereka sempal berlari, namun pintu gerbang itu tentu diselarak. Apalagi karena terdengar suara kentongan sebagai isyarat bahwa ada sekelompok orang yang sedang diburu oleh para prajurit karena telah membuat keributan.

Keempat orang itu kemudian memang dicengkam oleh ketegangan. Mereka menyadari, bahwa beberapa orang prajurit telah meloncati dinding halaman itu pula.

Dengan tombak merunduk mereka berjalan menyusuri kegelapan. Namun mereka tidak segera menemukan orang yang mereka cari. Bahkan menurut penglihatan mereka, halaman-halaman itu sepi dan seolah-olah tertidur nyenyak.

Dua orang prajurit justru terkejut ketika mereka mendengar lengking anak-anak yang terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Ibunya ternyata telah terbangun sebelumnya oleh suara kentongan yang mengumandang di seluruh kota. Dengan suara bergetar oleh ketakutan, ibunya berusaha untuk menenangkan anaknya. Tetapi karena ibunya sendiri gelisah, maka sulit baginya untuk dapat menidurkan anaknya kembali. Biasanya anak itu jika terbangun dan menangis akan segera tertidur lagi jika ibunya mendendangkan sebuah lagu yang ngelangut. Tetapi malam itu, suara ibunya benar-benar tidak dapat keluar dari kerongkongannya oleh ketakutan yang mencekam.

Kedua prajurit itu tercenung sejenak. Namun kemudian mereka melangkah pergi.

Tetapi suara langkah mereka di dekat dinding bilik itu, membuat ibu anak itu semakin ketakutan sehingga anaknyapun menangis semakin keras.

Yang terdengar kemudian adalah suara seorang laki-laki, “Beri anak itu minum.”

“Sudah. Aku telah memberinya minum. Tetapi ia masih saja menangis.”

“Biasanya kau berdendang,” berkata laki-laki itu.

“Tetapi, tetapi, di luar aku mendengar langkah kaki,” perempuan itu berbisik. Tetapi justru karena ia sangat ketakutan, suaranya yang bergetar itu dapat didengar oleh prajurit yang berada di luar rumah.

Seorang dari kedua orang prajurit yang merasa kasihan kepada anak yang menangis itu akhirnya berkata dari luar dinding, “Jangan takut. Kami adalah prajurit yang bertugas, justru mengamankan rumah ini. Berdendanglah. Tidak apa-apa.”

Suara itu mula-mula sangat mengejutkan. Namun kemudian kedua orang tua anak yang menangis itu menarik nafas dalam-dalam. Dari dalam rumahnya laki-laki itu berkata, “Terima kasih Ki Sanak.”

Sejenak kemudian benar-benar terdengar suara dendang seorang perempuan. Suaranya memang merdu dan ngelangut, sehingga anaknya itupun segera terdiam pula.

Sementara itu beberapa orang prajurit yang lain, masih mencoba untuk mencari empat orang buruan itu. Mereka menebar di halaman-halaman. Semakin lama daerah pencaharian menjadi semakin luas. Sementara itu, lingkungan itu seakan-akan telah dikepung oleh kelompok-kelompok prajurit yang justru berdatangan.

“Setan prajurit-prajurit itu,” geram Kasadha. “Seharusnya merekalah yang mendapat tugas ke Madiun.”

Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak banyak memberikan pendapatnya. Namun dalam keadaan yang terjepit, maka mereka harus mengerahkan kemampuan mereka untuk berusaha melepaskan diri dari kepungan para prajurit selama masih mungkin. Tetapi jika tidak, maka mereka harus menyerah, karena tidak ada niat mereka untuk melawan para prajurit Pajang. Bagaimana juga, maka tindakan itu adalah tindakan yang salah.

Kasadha sendiri memang tidak dapat berbuat banyak. Ia harus bersiap-siap untuk menerima hukuman, karena ia telah melawan prajurit yang sedang bertugas, meskipun ia sendiri seorang prajurit.

Namun dalam keadaan yang semakin terjepit, maka Kasadhapun memberi isyarat kepada ketiga orang yang bersamanya itu untuk memanjat, karena para prajurit itu nampaknya akan menilik setiap jengkal tanah di lingkungan yang sudah terkepung itu.

Nampaknya Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung sependapat. Merekapun dengan tangkasnya telah memanjat sebatang pohon nangka yang terhitung besar dengan dahan, ranting dan daun-daunnya yang lebat.

Demikianlah mereka hinggap di dahan pohon nangka itu, maka mereka memang melihat beberapa orang prajurit berjalan ke arah mereka.

Kasadha, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung itu menahan nafasnya. Dua orang prajurit melintas di bawah pohon itu menuju ke halaman belakang sebuah rumah yang terhitung besar.

Keempat orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun belum lagi jantung mereka menjadi tenang, dua orang prajurit yang lain telah mendekat pula. Bahkan keduanya telah berhenti dan berdiri di bawah pohon nangka itu.

Yang hinggap di atas pohon nangka itu harus menahan nafasnya kembali. Mereka harus menjaga agar orang-orang yang ada di bawah pohon itu tidak mendengar desah nafasnya itu.

Tetapi kedua orang prajurit itu ternyata tidak segera pergi. Bahkan seorang di antara mereka berkata, “Tidak akan ada setapak tanahpun yang akan terlampaui.”

Kawannyapun menyahut, “Mungkin mereka bersembunyi. Kita harus beradu ketahanan dan kesabaran. Mereka tentu masih ada di lingkungan ini jika benar dua orang prajurit yang memberikan keterangan itu melihat mereka memasuki lorong itu.”

“Setan prajurit-prajurit itu,” berkata Kasadha di dalam hatinya. Tetapi ia tidak mempunyai cara apapun untuk mengusir mereka dari bawah pohon nangka itu.

Sementara itu, kedua orang itu masih saja berbicara yang satu dengan yang lain. Bahkan kemudian mereka tidak lagi berbicara tentang tugas mereka mencari orang-orang yang mereka anggap penjahat yang harus diburu itu.

Bahkan seorang di antara mereka berkata, “Biarlah para prajurit yang bertugas malam ini mencari orang-orang itu. Sebaiknya kita menunggu saja disini, karena aku yakin, keempat orang itu masih berada di sekitar tempat ini. Kita baru akan bertindak setelah ada tanda-tanda bahwa keempat orang itu terlihat oleh para peronda yang bertugas malam ini.”

Mereka yang berada di atas pohon itu menjadi semakin gelisah. Satu-satunya jalan bagi Kasadha adalah menyerahkan diri dan menerima hukuman karena ia telah melawan prajurit yang sedang bertugas.

Tetapi Kasadha masih berharap bahwa Ki Rangga Dipayuda akan menghubungi Ki Tumenggung Jayayuda untuk ikut campur dalam persoalan ini.

Dalam pada itu, kedua orang prajurit di bawah pohon itu masih saja berbincang. Seorang justru duduk bersandar pohon nangka itu.

Namun semakin lama pembicaraan kedua orang prajurit itu semakin menarik perhatian Kasadha. Bukan isi pembicaraan mereka, tetapi cara keduanya berbicara.

Baru kemudian, Kasadha menyadari, bahwa kedua orang prajurit itu adalah prajurit-prajuritnya. Mereka tentu sedang bertugas di barak ketika terdengar isyarat bahwa ada beberapa orang yang sedang diburu, dan kemudian ditugaskan untuk memberikan bantuan keluar barak. Apalagi orang yang diburu itu diduga berada di dekat barak mereka.

Karena itu, maka Kasadha itupun menarik nafas dalam-dalam. Dengan pasti Kasadha mengenali mereka, sehingga ia yakin bahwa ia tidak akan salah.

Kasadhapun kemudian memberi isyarat kepada Ki-sang, Sambi Wulung dan Jati Wulung, agar mereka tetap berada di tempatnya.

Risang tanggap akan isyarat itu. Tetapi ia tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh Kasadha.

Ternyata sejenak kemudian Kasadha itu tiba-tiba saja telah bergerak turun dengan sangat hati-hati. Tetapi bagaimanapun juga, pohon itu memang telah bergoyang, sehingga kedua orang prajurit itu terkejut.

Tetapi mereka tidak mempunyai kesempatan berbuat sesuatu. Demikian mereka bersiap sambil merundukkan senjata mereka, maka Kasadha telah sempat berkata, “Ini aku. Lurah Kasadha. Kalian kenal?”

Sekali lagi kedua orang itu terkejut. Sejenak mereka mengamati orang yang sudah berdiri di hadapannya. Orang itu memang Ki Lurah Kasadha.

Dengan heran seorang dari kedua orang prajurit itu bertanya, “Apakah yang sedang diburu itu juga Ki Lurah Kasadha?”

“Ya. Aku melawan ketika aku akan ditahan di gardu di belakang gerbang kota. Kemudian aku dan tiga orang yang membantu aku dalam tugasku yang berat itu melarikan diri.”

“Dimana mereka sekarang?” bertanya prajurit yang lain.

“Mereka ada di atas.”

Kedua orang prajurit itu memandang ke atas. Tetapi mereka tidak segera melihat ketiga orang yang bertengger di atas dahan pohon nangka itu.

Dalam pada itu Kasadhapun berkata, “Cari jalan, agar kami dapat masuk ke barak. Bukankah regol barak itu ada di seberang jalan?”

Kedua prajurit itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata, “Baiklah. Kami akan mencoba. Kami akan membawa kalian seorang demi seorang. Tetapi kami akan melihat keadaan lebih dahulu.”

Demikianlah, maka salah seorang prajurit itu telah menyeberangi halaman dan melalui regol halaman turun ke jalan.

Prajurit itu masih melihat beberapa orang yang berjaga-jaga di ujung-ujung jalan, tetapi tidak terlalu dekat. Sementara itu, regol barak mereka nampak masih tertutup rapat. Tetapi prajurit itu tahu, bahwa di belakang pintu serta di atas panggungan tentu ada kawan-kawannya yang berjaga-jaga.

Prajurit itupun kemudian telah menyeberangi jalan dan menuju ke barak. Dengan isyarat sandi ia mengetuk pintu gerbang itu. Demikian pintu gerbang terbuka, maka iapun langsung menemui seorang Lurah prajurit yang bertugas.

Kepada Lurah prajurit itu, ia telah melaporkan, bahwa yang sedang diburu itu adalah justru Ki Lurah Kasadha.

“Kenapa?” bertanya Lurah prajurit yang bertugas itu.

“Aku tidak tahu. Ki Lurah belum sempat berceritera. Tetapi Ki Lurah telah melawan prajurit yang bertugas di pintu gerbang kota.”

Lurah prajurit itu mengerutkan dahinya. Ia tahu bahwa Ki Lurah Kasadha adalah seorang prajurit yang memegang teguh paugeran. Jika ia berbuat menyimpang, tentu ada alasannya yang mapan bagi Ki Lurah.

“Lalu, apa katanya?” bertanya Lurah yang bertugas itu.

“Ki Lurah minta dibantu untuk dapat masuk ke dalam barak ini bersama tiga orang yang mendukung tugasnya yang berat selama ini,” jawab prajurit itu.

Lurah prajurit yang bertugas itu termangu-mangu sejenak. Iapun kemudian bergumam, “Apakah kita harus melaporkannya kepada Ki Rangga Dipayuda?”

“Terlalu lama Ki Lurah,” jawab prajurit itu.

“Baiklah. Kita usahakan agar Ki Lurah Kasadha memasuki barak ini lebih dahulu,” berkata Lurah prajurit itu.

Prajurit itu kemudian minta ijin untuk membawa tiga orang kawan lagi, sehingga dengan demikian mereka akan dapat menyamarkan Kasadha dan kawan-kawannya.

“Berhati-hatilah,” pesan Lurah prajurit yang bertugas.

Ketika prajurit itu keluar lagi dari pintu gerbang bersama ketiga orang kawannya, maka mereka masih juga melihat prajurit yang bertugas di ujung-ujung lingkungan yang sedang di kepung, sementara beberapa orang prajurit sedang berusaha mencari keempat orang buruan itu dengan menjelajahi halaman-halaman rumah.

Namun di antara mereka adalah prajurit-prajurit yang keluar dari barak itu pula.

Selain keempat orang prajurit yang kemudian menyeberangi jalan itu, beberapa orang prajurit yang lain telah keluar pula dari pintu gerbang, meskipun hanya berdiri mengawasi jalan itu.

Dengan demikian, maka di depan pintu gerbang yang agak menjorok ke dalam dari tepi jalan itu nampak kesibukan yang meningkat.

Para prajurit dari kesatuan yang lain yang berdiri agak jauh dari pintu gerbang itu hanya melihat beberapa orang prajurit yang hilir mudik menyeberangi jalan di depan pintu gerbang yang agak menjorok ke dalam dan dihubungkan dengan gledegan pendek dari pinggir jalan yang menyilang itu.

Lingkungan dinding barak yang terbuka memang memberi keleluasaan penglihatan bagi mereka yang ada di panggungan didinding halaman barak maupun yang berada di luar.

Dengan demikian memang tidak ada yang menarik perhatian menurut penglihatan para prajurit peronda selain kesibukan yang meningkat. Para prajurit peronda mengira bahwa para prajurit di barak itu telah meningkatkan bantuan mereka untuk memburu keempat orang yang seakan-akan telah hilang begitu saja.

Namun dalam pada itu, Kasadha dan ketiga orang yang bersamanya telah berada di dalam pintu gerbang barak mereka.

Beberapa orang prajurit masih tetap berada di luar barak. Bahkan ada di antara mereka yang menebar mengamati jalan yang melintang menyilang gledegan pendek yang menuju ke gerbang barak yang tertutup itu.

Seorang di antara para prajurit itu mendatangi tiga orang prajurit yang bertugas meronda malam itu dan berkata, “Halaman di lingkungan yang terkepung itu harus disisir pada jarak tidak lebih dari sedepa.”

“Kami kekurangan orang untuk melakukannya,” jawab prajurit itu. “Tetapi sekarang halaman-halaman itu masih dijelajahi. Jika malam ini mereka tidak diketemukan, maka esok pagi orang itu tentu menyerah. Sementara jalan di sekeliling lingkungan ini masih tetap diawasi dengan ketat.”

Prajurit yang datang dari barak Kasadha itu mengangguk-angguk. Tetapi kemudian iapun berkata, “Kami akan berjaga-jaga di depan pintu gerbang barak kami.”

“Silahkan,” jawab prajurit yang memang bertugas malam itu.

Sementara itu, Kasadha telah dibawa menghadap Ki Rangga Dipayuda yang telah bangun pula karena suara kentongan yang bergema di seluruh kota. Dibawanya Kasadha, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung ke ruangan yang khusus.

“Kenapa kalian diburu malam ini?” bertanya Ki Rangga.

Dengan singkat Kasadha memberikan keterangan apa yang telah terjadi di pintu gerbang kota.

“Kenapa kau lakukan hal itu?” bertanya Ki Rangga.

“Aku tidak mengerti Ki Rangga. Tiba-tiba saja jantungku bergejolak. Kami baru saja datang dari Madiun untuk menunaikan tugas yang menegangkan. Lebih dari itu, pemimpin kelompok yang pergi bersamaku itu telah gugur. Dengan demikian, rasa-rasanya jantungku cepat menjadi panas.”

Ki Rangga Dipayuda mengerutkan dahinya. Dengan nada dalam ia bertanya, “Jadi pemimpin kelompok itu telah gugur?”

“Ya, Ki Rangga,” jawab Kasadha, “betapa kami semuanya telah mengerahkan kemampuan kami untuk membantu dan menyelamatkannya. Tetapi saat itu kami menghadapi lawan-lawan yang berat, sehingga kami kehilangan orang yang bagiku sangat berarti.”

Ki Rangga mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Ia sudah sampai pada garis batas hidupnya. Segala sesuatunya harus kita kembalikan kepada penciptaNya.”

“Ya, Ki Rangga,” jawab Kasadha.

Ki Rangga Dipayuda itupun kemudian berpaling kepada Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung. Dengan menahan gejolak perasaannya ia berkata, “Kami mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga atas segala bantuan kalian.”

Risang menundukkan kepalanya sambil berdesis, “Itu adalah kewajiban kami, Ki Rangga.”

“Kau telah melakukan satu tugas melampaui kewajibanmu. Pajang harus merasa berhutang budi kepadamu,” sahut Ki Rangga.

“Bukankah aku juga terhitung kawula Pajang?” desis Risang.

“Justru karena tidak semua orang dapat melakukan sebagaimana kau lakukan,” jawab Ki Rangga.

Risang tidak menjawab lagi. Tetapi ia masih menundukkan kepalanya.

Dalam pada itu, maka Ki Rangga Dipayudapun kemudian mulai mempersoalkan sikap Kasadha sehingga Kasadha telah diburu oleh para prajurit yang bertugas malam itu di dalam lingkungan dinding kota.

Dengan nada dalam Ki Rangga itupun bertanya, “Apakah kau telah menyebut nama dan kedudukanmu kepada prajurit yang bertugas di pintu gerbang kota itu?”

Kasadha mengingat-ingat. Dengan dahi yang berkerut ia menjawab, “Agaknya memang demikian, Ki Rangga. Ketika aku dihentikan dan ditekan dengan beberapa pertanyaan, aku telah menyebut namaku dan kesatuan ini.”

“Jika demikian, maka akan datang saatnya, kau diburu sampai ke barak ini,” berkata Ki Rangga.

“Kami mohon perlindungan,” jawab Kasadha. “Saat itu, aku memang merasa letih sekali, sehingga aku tidak sempat mengekang diri.”

“Aku akan menghadap Ki Tumenggung,” jawab Ki Rangga.

Malam itu juga Ki Rangga telah menghadap Ki Tumenggung Jayayuda. Dalam kesiagaan yang tinggi menghadapi gejolak yang timbul dalam hubungannya dengan Madiun, maka Ki Jayayuda memang lebih banyak berada di baraknya.

Dengan singkat, Ki Rangga memberikan laporan tentang hasil yang dicapai oleh Kasadha di dalam tugasnya, dibantu oleh Risang, Kepala Tanah Perdikan Sembojan dan dua orang yang juga berakal dari Tanah Perdikan Sembojan. Kemudian dilaporkannya pula seorang pemimpin kelompok yang telah gugur dalam tugas itu.

Ki Tumenggung Jayayuda mengangguk-angguk. Katanya, “Mereka pantas mendapat penghargaan dari Pajang. Harta-benda yang nilainya sangat besar itu akan sangat berarti. Seandainya harta-benda itu dapat diketahui siapa pemiliknya dan harus dikembalikan kepadanya, namun bahwa harta-benda itu tidak jatuh ke tangan orang-orang yang tidak berhak, sudah berarti bahwa tugas Ki Lurah Kasadha berhasil dengan baik.”

“Ya, Ki Tumenggung,” jawab Ki Rangga. Namun Ki Ranggapun telah menceriterakan pula bahwa Ki Lurah Kasadhalah yang telah menjadi buruan malam itu, sehingga isyarat kentongan telah menggetarkan udara malam di seluruh kota.

“Kenapa ia lakukan itu?” Ki Tumenggung mengerutkan dahinya.

Ki Ranggapun kemudian telah menceriterakan alasan Ki Lurah Kasadha, kenapa ia telah melanggar paugeran prajurit. Keletihan, ketegangan dan kemurungan karena seorang yang dianggapnya penting bukan saja sebagai seorang pemimpin kelompok, tetapi juga dalam hubungan pribadinya, telah membuat darahnya terlalu cepat mendidih.

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Biarlah aku menjelaskannya jika kemudian ternyata bahwa Ki Lurah itu diburu sampai ke barak ini.”

“Ia mohon perlindungan Ki Tumenggung,” berkata Ki Rangga.

“Aku akan melakukannya sejauh mungkin. Tetapi bahwa karena Kasadha telah berjasa, bukan berarti ia dapat melanggar paugeran yang berlaku,” berkata Ki Tumenggung.

“Terserahlah kebijaksanaan Ki Tumenggung,” berkata Ki Rangga kemudian.

“Baiklah,” berkata Ki Tumenggung, “aku akan menjelaskannya. Sekarang, biarlah mereka yang baru kembali itu beristirahat.”

Demikianlah, maka Ki Rangga telah menemui Ki Lurah Kasadha, Risang, Sambi Wulung dan Jati Wulung. Mereka dipersilahkan untuk beristirahat di dalam barak itu. Namun Ki Rangga telah minta agar Kasadha membawa ketiga orang yang datang bersamanya itu ke dapur.

“Mungkin masih ada yang kalian dapatkan di dapur,” berkata Ki Rangga.

“Hara petugasnya sudah tidur nyenyak,” sahut Kasadha.

“Kau dapat membangunkannya bila perlu,” berkata Ki Rangga pula.

“Sudahlah Ki Rangga,” berkata Kasadha. “Biarlah besok pagi saja.”

Setelah membersihkan diri maka mereka berempatpun langsung pergi ke tempat yang memang khusus diperuntukkan bagi tamu yang menginap di barak itu. Kasadha tidak masuk ke dalam biliknya sendiri. Tetapi ia ikut tidur bersama ketiga orang tamunya di dalam bilik yang khusus itu.

Kasadha memang menghindari para prajuritnya. Jika ia berada di dalam biliknya, maka ia tentu tidak akan dapat segera beristirahat. Apalagi karena pemimpin kelompok tertua, yang menyertainya, telah gugur pula.

Di bilik khusus itu, maka keempat orang yang letih itu segera tertidur. Tetapi malam memang tinggal sisanya, sehingga mereka tidak mendapat kesempatan terlalu lama untuk tidur.

Betapapun, letihnya, namun keempat orang itu terbiasa bangun pagi-pagi. Seperti para prajurit yang lain, maka merekapun bersiap sebelum matahari terbit.