Bacaan Online Jagat Satria

duniaabukeisel@jagatsatria

Traffic

Hari ini25
Kemarin264
Minggu ini766
Bulan ini4440
Total370405

SAYAP-SAYAP YANG TERKEMBANG

Karya: SH Mintardja

Jilid 63

 

“BEBERAPA orang pengawal Tanah Perdikan ini yang sudah menjadi mabuk oleh uang dan kesenangan, justru yang mengatur arus bahan pangan itu sehingga sulit untuk dapat ditangkap. Namun laporan dari pengawal yang berhasil menyusup itu memberikan sedikit kesempatan yang mudah-mudahan dapat kita pergunakan sebaik-baiknya.”

“Apa yang dapat kita lakukan?” bertanya Sambi Wulung.

“Sulit bagi kita untuk mempercayai para pengawal, khususnya dari padukuhan-padukuhan di sebelah Utara. Bukan maksudku mengatakan bahwa sebagian besar dari mereka terlibat. Namun sulit bagi kita untuk mengetahui siapakah yang terlibat itu, sehingga jika kesempatan kecil ini sampai ke telinga mereka, maka kita akan gagal lagi.”

“Kita dapat memerintahkan para pengawal dari daerah lain,” berkata Risang.

“Tetapi itu akan dapat menyinggung perasaan para pengawal di daerah itu, terutama mereka yang merasa tidak bersalah. Mereka akan merasa tidak dipercaya lagi.”

Risang yang kemarahannya sudah memuncak itupun bertanya pula, “Jadi bagaimana? Apakah kita akan membiarkan saja hal itu terjadi dan terjadi?”

“Risang,” berkata ibunya, “kita memang sedang membicarakan persoalan yang rumit yang terjadi di Tanah Perdikan ini. Bagimu, ini adalah satu pengalaman, bahwa kau tidak boleh hanyut dalam kemudaanmu. Tugasmu memerlukan pendalaman untuk menanggapi satu persoalan.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah iapun bertanya, “Menurut ibu, apa yang sebaiknya kita lakukan?”

“Mungkin pamanmu Sambi Wulung dapat memberikan pendapatnya,” jawab ibunya.

Sambi Wulung termangu-mangu sejenak. Sambil berpaling kepada Gandar iapun bertanya, “Berapa besarkah kekuatan mereka?”

“Ada beberapa orang berilmu yang melindungi para pedagang gelap itu. Tetapi aku belum mendapat laporan yang pasti.”

“Jadi kapan rencana kita dapat kita lakukan?” desak Risang yang nampaknya masih saja kurang sabar.

“Menurut laporan, maka penyusupan itu akan dilakukan malam hari besok. Masih ada waktu hari ini dan besok untuk menyusun penyergapan itu.”

“Nampaknya memang rumit. Tetapi bagaimana menurut pendapatmu jika kita sendiri langsung turun ke medan? Untuk menghindari agar para pengawal yang tidak bersalah tidak tersinggung jika kita membawa para pengawal dari lingkungan lain. Kecuali itu, maka akan dapat timbul permusuhan antara para pengawal dari satu lingkungan dengan pengawal dari lingkungan yang lain.”

“Aku setuju,” berkata Gandar. “Kita sendiri akan turun kelapangan. Mudah-mudahan kita dapat menyelesaikannya.”

Dengan demikian, maka akhirnya Risang memutuskan untuk bertindak langsung terhadap orang-orang yang setiap kali menyusupkan bahan pangan keluar Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan yang telah membawa korban.

Dengan demikian, maka para pemimpin Tanah Perdikan itu tidak mencemaskan bahwa rencana mereka akan didengar oleh para pedagang gelap itu. Mereka yakin, bahwa para pemimpin Tanah Perdikan itu akan dapat memegang rahasia sebaik-baiknya.

Namun darah Risang menjadi seakan-akan mendidih ketika di pagi harinya, diketemukan lagi seorang korban. Seorang yang menurut keluarganya, menolak untuk menyerahkan bahan pangan yang ada padanya kepada para pedagang gelap.

“Kakang semula memang ikut dalam perdagangan gelap ini,” berkata isterinya. “Bahkan Kakang telah berhasil mengumpulkan beberapa pikul beras padi dan jagung yang disimpan di dalam lumbung dan sebagian lagi di dapur. Namun melihat gelagat yang kurang baik bagi kehidupan orang-orang Tanah Perdikan ini sendiri, maka Kakang telah menghentikan usahanya serta tidak mau menyerahkan bahan pangan yang sudah terkumpul.”

“Siapakah yang telah membunuhnya?” bertanya Gandar. “Apakah ada di antara mereka yang kau kenal?”

Isterinya menggeleng. Katanya, “Kakang dibawa keluar oleh empat orang yang semuanya belum aku kenal.”

“Tetapi apakah kau mengenal orang-orang yang pernah berhubungan dengan suamimu? Apakah ada di antara mereka orang-orang Tanah Perdikan ini sendiri?”

“Kakang tidak pernah membicarakan perdagangan gelapnya di rumah. Ia selalu keluar untuk menemui orang-orang yang terlibat dalam perdagangan ini.”

Gandar tidak bertanya lebih lanjutnya, iapun kemudian ikut sibuk menyelenggarakan penguburan orang yang terbunuh itu. Beberapa orang pengawal telah ikut menjadi sibuk.

Namun Gandar yakin, bahwa ada di antara mereka adalah orang-orang yang justru terlibat. Di dalam kesibukan itu, Gandar juga melihat pengawal kepercayaannya yang justru pernah mendapat hukuman daripadanya, yang memberikan kesempatan kepada pengawal itu untuk melibatkan diri dalam perdagangan gelap bahan pangan itu.

Justru karena itu, Gandar tidak berbuat banyak. Ia sengaja membatasi persoalan, agar tidak mempengaruhi rencana para pedagang gelap itu malam nanti. Jika mereka merasa mulai dicurigai atau tercium jejaknya, maka mereka akan merubah rencana mereka.

Dua kematian telah membuat Tanah Perdikan itu berkabung. Namun orang-orang di daerah Utara menjadi ketakutan karena peristiwa itu. Mereka yang sudah terlibat ke dalamnya, tidak akan berani untuk menarik diri, karena para pedagang gelap yang dilindungi oleh orang-orang berilmu dan bahkan berhati beku itu, tidak lagi menghargai nyawa orang lain. Mereka lebih menghargai keuntungan yang dapat mereka teguk dari perdagangan gelapnya daripada nyawa sesama.

Dalam pada itu, pada malam yang sudah ditentukan, maka Risang telah mengatur satu rencana penyergapan. Risang tidak melibatkan para pengawal. Tetapi ia bersama Sambi Wulung, Jati Wulung dan Gandar akan menanganinya langsung.

“Aku akan bersama kalian,” berkata Nyi Wiradana kepada Risang.

Risang mengerutkan dahinya. Kemudian katanya, “Tapi ibu tidak usah terlibat dalam penyergapan ini. Biarlah kami yang melaksanakannya.”

“Ingat Risang. Berapa puluh tahun aku memangku jabatan Kepala Tanah Perdikan disini?”

Risang hanya menarik nafas panjang. Sambi Wulung yang semula juga akan mencegah niat Nyi Wiradana itu justru tertegun pula. Hampir saja ia mengatakan bahwa Nyi Wiradana sudah menjadi semakin tua sebagaimana dirinya. Tetapi Sambi Wulung adalah seorang laki-laki.

Tetapi niat itu diurungkan. Ia tahu, bahwa ia akan menyinggung perasaan Nyi Wiradana jika ia mengatakan hal itu langsung kepadanya.

Dalam pada itu, maka rencanapun telah disiapkan sebaik-baiknya. Gandar telah mendapat laporan terperinci dari pengawal kepercayaannya.

“Bagaimana kau dapat bertemu dan berbicara panjang dengan pengawal itu?” bertanya Nyi Wiradana.

“Di bendungan, Nyi,” jawab Gandar. “Kami memang sering bertemu di bendungan. Anak itu terbiasa mandi di bendungan. Sementara aku bersembunyi di balik gerumbul-gerumbul perdu.”

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kita dapat menghentikan perdagangan gelap itu.”

Ketika mereka siap untuk berangkat ke sasaran, setelah senja turun, maka Risang telah memanggil beberapa orang bebahu.

Demikian mereka datang, maka merekapun segera dilibatkan dalam penyergapan itu tanpa mereka ketahui lebih dahulu. Dengan demikian, maka rahasia penyergapan itu tidak akan pernah didengar oleh orang lain.

Kelompok para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan itu dengan hati-hati merayap mendekati tempat penyeberangan para pedagang gelap itu. Ternyata mereka tidak melewati lorong yang paling sempit sekalipun. Mereka telah mempergunakan padukuhan yang hampir dekat dengan perbatasan untuk memindahkan bahan pangan itu dari Tanah Perdikan ke Kademangan Jerukgede. Seorang yang halamannya cukup luas, telah membuka dinding halamannya dengan membuat pintu butulan yang besar justru menghadap ke perbatasan.

Pada jarak yang pendek itulah, para pedagang gelap memindahkan bahan pangan yang mereka beli dari Tanah Perdikan dan demikian mereka melintasi perbatasan, mereka lebih aman, karena para bebahu Kademangan Jerukgede hampir seluruhnya telah terpengaruh oleh perdagangan itu pula.

Untuk mengamati arus bahan pangan itu, maka para pemimpin Tanah Perdikan itu memang harus memasuki perbatasan Kademangan Jerukgede.

Dengan terpaksa Risang memang harus menyeberangi perbatasan bersama beberapa orang agar mereka dapat mengawasi usaha untuk mengeluarkan bahan pangan itu dari Tanah Perdikan Sembojan dengan jelas. Karena itu, maka mereka harus menjadi sangat berhati-hati. Jika mereka dapat diketahui oleh para petugas dan pengawas dari Kademangan Jerukgede, maka mereka akan mengalami dua kesulitan. Mereka akan dapat dituduh melakukan pelanggaran memasuki Kademangan Jerukgede dengan niat buruk, serta mereka akan kehilangan kesempatan untuk menangkap langsung di tempat orang-orang yang menyusupkan bahan pangan keluar Tanah Perdikan. Bahan pangan yang mungkin akan mengalir ke Madiun, karena orang-orang kaya di Madiun berusaha untuk mengisi lumbung-lumbung di Madiun untuk menghadapi kesulitan pangan karena ribuan prajurit yang sedang berkumpul di Madiun.

Seorang demi seorang, maka sekelompok kecil orang-orang Tanah Perdikan itu menyusup perbatasan, mendekati tempat yang diperkirakan akan menjadi lintasan penyeberangan bahan pangan itu. Namun mereka adalah orang-orang berilmu tinggi. Sementara beberapa orang be-bahu yang oleh Risang disertakan dalam tugas itu, diperintahkan untuk menunggu di perbatasan. Mereka akan mendapat isyarat jika saatnya telah datang.

Sementara itu, di sebuah halaman yang luas, yang mempunyai sebuah pintu butulan menghadap ke perbatasan, telah terjadi kesibukan. Meskipun pintu butulan itu masih tertutup, tetapi segala persiapan telah dilakukan sebaik-baiknya di belakang dinding halaman yang cukup tinggi.

Dalam pada itu, Gandar telah merayap dengan sangat berhati-hati mendekati halaman itu. Dengan sangat berhati-hati pula ia telah memanjat sebatang pohon di luar halaman itu untuk melihat apa saja yang terjadi di dalamnya.

Meskipun di malam hari, namun ketajaman mata Gandar dapat melihat beberapa pedati yang sudah dimuati bahan pangan siap untuk bergerak. Sepasang lembu telah dipasang di setiap pedati yang berjajar berurutan.

Gandar dengan tegang menyaksikan persiapan itu. Iapun melihat beberapa orang bersenjata hilir mudik di sekitar pedati-pedati itu. Tetapi juga di pintu butulan yang masih tertutup itu.

Ternyata apa yang dilaporkan oleh pengawal kepercayaannya yang berhasil menyusup ke lingkungan para pedagang gelap bahan pangan itu benar. Malam itu akan terjadi penyusupan besar-besaran bahan pangan keluar Tanah Perdikan Sembojan, yang agaknya bukan yang pertama kali terjadi.

Dengan demikian maka apa yang dilakukan oleh para pemimpin Tanah Perdikan itu agaknya tidak sia-sia. Mereka akan dapat melihat langsung apa yang sebenarnya telah terjadi di perbatasan.

Karena itu, maka Gandarpun kemudian telah memberikan laporan kepada Risang, apa yang telah dilihatnya.

Para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan itu kemudian telah beringsut mendekati sasaran. Mereka memang terpaksa melintas di seberang perbatasan agar mereka tidak langsung dapat diketahui oleh orang-orang yang bertugas untuk mengamati keadaan.

Risang telah merencanakan untuk menghentikan iring-iringan itu tepat di perbatasan, setelah satu atau dua pedati melintas. Namun Risangpun telah menentukan, bahwa tempat penyergapan itu harus berada di perbatasan.

Demikianlah, maka Risang dan para pemimpin tanah Perdikan itu menunggu. Menurut perhitungan mereka, maka merekamkan dapat mengatasi sejumlah pengawal dari bahan pangan yang akan dibawa melintasi perbatasan itu bersama para bebahu yang masih menunggu isyarat.

Ketegangan terasa semakin mencengkam. Pintu butulan itu masih juga belum terbuka. Rasa-rasanya mereka sudah menunggu terlalu lama. Bahkan bintangpun rasa-rasanya telah bergeser semakin ke Barat.

Namun ternyata mereka terkejut ketika mereka mendengar langkah mendekat. Bahkan orang yang sedang berbicara, justru dari arah Kademangan Kleringan.

Risang dan para pemimpin Tanah Perdikan itu bersembunyi semakin baik. Dengan sungguh-sungguh mereka memperhatikan orang-orang yang lewat itu.

“Empat orang,” desis Risang ketika ia melihat empat orang berjalan dengan tergesa-gesa melintasi perbatasan menuju ke pintu butulan yang masih tertutup itu.

Sejenak kemudian, dalam keremangan malam Risang dan para pemimpin Tanah Perdikan yang lain itu melihat orang-orang itu mengetuk pintu butulan. Bahkan mereka dengan jelas mendengar ketukan itu yang agaknya dilakukan dengan isyarat sandi. Ketukan itu terdengar dua kali, tiga kali berturut-turut.

Sejenak kemudian, maka pintu butulan itu terbuka sedikit. Nampaknya sedang terjadi pembicaraan antara orang-orang yang datang itu dengan orang-orang yang ada di belakang pintu.

Namun kemudian, maka pintu itupun terbuka. Tidak hanya sebagian, tetapi pintu yang cukup lebar itu terbuka sepenuhnya.

Risang dan para pemimpin Tanah Perdikan yang lainpun segera bersiap. Nampaknya iring-iringan pedati yang membawa bahan pangan itu akan segera bergerak. Empat orang yang datang itu tentu membawa pesan atau isyarat, bahwa pedati-pedati itu sudah dapat berangkat melintasi perbatasan. Agaknya mereka menganggap bahwa keadaan aman. Sementara pengawas-pengawas merekapun tidak memberikan laporan apa-apa, sehingga mereka menganggap bahwa penyerahan bahan pangan itu tidak akan terganggu.

Sebenarnyalah seperti yang diduga, bahwa pedati-pedati yang berisi bahan pangan itu mulai bergerak. Empat orang yang datang dan mengetuk pintu butulan itulah yang berjalan di paling depan. Kemudian, dua orang yang lain di belakangnya. Baru kemudian pedati yang pertama keluar dari pintu butulan itu.

Risang menjadi berdebar-debar. Sebagaimana dilaporkan oleh Gandar, bahwa pengawal bahan pangan itu cukup banyak. Di antara mereka tentu terdapat orang berilmu tinggi.

Sementara itu, para pemimpin Tanah Perdikan serta para bebahu yang pada saat terakhir dipanggil oleh Risang, jumlahnya tidak sebanyak mereka itu.

Namun Risang merasa, bahwa yang dilakukannya itu adalah kewajibannya. Karena itu, maka Risang tidak berniat untuk mundur dari rencananya.

Demikianlah, maka iring-iringan itupun merayap dengan lamban. Keempat orang yang berjalan terdahulu itu rasa-rasanya tidak sabar. Mereka berjalan mendahului. Namun kemudian berhasil dan memberi isyarat untuk berjalan lebih cepat.

Tetapi lembu yang menarik pedati itu tidak mengerti syarat yang diberikan. Meskipun punggungnya dicambuk beberapa kali, tetapi lembu itu memang tidak dapat berjalan lebih cepat lagi.

Risang dan para pemimpin Tanah Perdikan itu sudah bergeser sampai ke perbatasan. Mereka siap untuk meloncat bangkit untuk menghentikan iring-iringan itu.

Namun Risang memang menunggu pedati yang pertama melintasi perbatasan dan ketika pedati yang kedua tepat berada di perbatasan maka Risangpun memberi isyarat kepada para pemimpin Tanah Perdikan.

Serentak merekapun telah berloncatan dari balik perdu. Dengan lantang Risang berkata, “Berhenti. Berhentilah.”

Orang-orang yang berada di depan pedati itu terkejut. Ketika mereka berpaling, maka dilihatnya beberapa orang berdiri tegak di perbatasan.

Keempat orang itu segera berloncatan mendekat. Seorang di antara mereka bertanya lantang, “He, siapakah kalian?”

Tetapi seorang yang lain dengan suara bergetar berdesis, “Angger Risang.”

“Ya, Ki Bekel,” jawab Risang. Ternyata orang yang mengenalinya itu adalah Ki Bekel dari padukuhan terdekat dengan perbatasan tetapi di lingkungan Kademangan Jerukgede.

“Inikah sebabnya, maka tanah yang membentang sampai ke perbatasan di lingkungan padukuhan Ki Bekel menjadi tanah bera yang tidak pernah ditanami. Aku kira tanah ini menjadi kering karena jaringan airnya rusak. Tetapi agaknya ada kesengajaan agar tanah kering ini dapat menjadi jalur jalan bahan pangan ini.”

Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Namun kemudian seorang yang lain, yang juga dikenal oleh Risang sebagai bebahu Kademangan Jerukgede berkata, “Apa salahnya? Itu adalah hak Ki Bekel. Apakah tanahnya akan ditanami atau dibiarkan bera atau digali sedalam jurang jero sekalipun, itu orang lain tidak akan dapat melarangnya.”

“Aku tidak akan pernah melarangnya. Aku memang tidak berhak melarang. Bukankah aku juga tidak berhak berusaha melakukannya? Aku hanya mengatakan bahwa itulah sebabnya maka tanah ini dibiarkan menjadi tanah kering.”

“Itu bukan urusanmu. Nah, sekarang, kenapa kau hentikan iring-iringan ini?” bertanya bebahu itu.

“Aku tidak ingin bahan pangan dari Tanah Perdikan dikuras keluar,” jawab Risang.

“Tetapi yang kami lakukan adalah perdagangan yang sah. Kami dan para pedagang bahan pangan ini membeli bahan pangan dari orang-orang Tanah Perdikan. Kemudian bahan pangan yang sudah kami beli itu kami bawa keluar karena itu sudah menjadi milik kami.”

Risang menggeleng. Katanya, “Tidak. Aku sudah menentukan bahwa bahan pangan tidak boleh dibawa keluar. Tanah Perdikan menjadi kekurangan pangan, terutama di sisi Utara ini. Harga pangan menjadi semakin naik. Aku harus melindungi orang-orang yang kekurangan. Yang sawahnya sempit sehingga nanti panennya tidak mencukupi sehingga mereka harus membeli kekurangan bahan pangannya. Juga mereka yang memilih pekerjaan lain dan tidak bertani.”

“Aku tidak peduli. itu adalah persoalanmu dengan orang-orangmu.”

“Aku adalah Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Aku berhak membuat peraturan, bahwa bahan pangan tidak boleh keluar dari Tanah Perdikan.”

“Itu adalah pertanda bahwa peraturanmu bertentangan dengan keinginan rakyatmu sendiri. Mereka masih juga menjual bahan pangan kepada kami.”

Tetapi Risangpun langsung mengatakan, “Dua orang korban telah cukup. Itukah yang kau katakan bahwa rakyatku memang menghendaki perdagangan gelap ini dengan suka rela?”

“Apakah yang kau maksud dengan korban itu!?” bertanya bebahu Jerukgede itu.

“Apakah kami masih harus menjelaskan? Aku kira kalian lebih mengetahui tentang kedua orang korban itu. Siapakah mereka, karena apa, dan siapa yang telah membunuhnya,” jawab Risang.

“Kau mengigau anak muda. Sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan, kau tidak boleh kehilangan kendali perasaanmu. Itu tentu akan sangat membahayakan bukan saja bagimu sendiri, tetapi justru bagi Tanah Perdikanmu.”

“Aku tidak berkeberatan akan pernyataanmu itu. Tetapi sekarang aku perintahkan, bahan pangan itu tidak boleh dibawa keluar Tanah Perdikan Sembojan.”

“Aku tidak peduli. Itu adalah hak kami,” berkata orang yang tidak mengenal Risang itu.

“Sekali lagi aku perintahkan, pedati-pedati itu harus kembali dengan muatannya. Tidak sebutir padipun yang keluar dari Tanah Perdikan.”

“Itu pedati-pedatiku,” berkata orang itu.

“Setelah muatannya dibongkar, bawa pergi pedati-pedati itu. Tetapi aku juga ingin menangkap orang-orang yang telah membunuh rakyat Tanah Perdikan.”

“Anak muda,” berkata orang itu, “kami adalah pedagang-pedagang yang berpengalaman. Kami tidak pernah mengalami perlakuan yang demikian buruknya sebagaimana perlakuan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, aku minta kau cabut semua persyaratanmu itu,” geram orang itu.

“Aku justru harus menegaskan. Bawa bahan pangan itu kembali, atau kami harus mempergunakan kekerasan.”

“Bagus,” jawab orang itu. “Kami akan mempertahankan hak kami apapun yang akan terjadi. Semua orang tentu akan mengutuk Tanah Perdikan Sembojan yang telah melanggar hak para pedagang. Dengan demikian, maka Sembojan akan terpencil dari dunia perdagangan antar daerah yang tentu sangat diperlukan bagi Tanah Perdikan.”

“Tidak,” jawab Risang. “Kami membuka arus perdagangan. Tetapi bukan perdagangan gelap seperti ini. Sekarang, sekali lagi aku perintahkan, bawa kembali bahan pangan kami.”

Orang itu ternyata tetap bertahan. Karena itu, maka iapun segera memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk bersiap.

Namun Ki Bekel padukuhan sebelah yang termasuk lingkungan Kademangan Jerukgede itu berkata terbata-bata, “Nanti dulu. Apakah kita tidak dapat membicarakannya?”

“Maaf Ki Bekel,” berkata Risang, “tidak ada pilihan lain.”

Tetapi pedagang yang marah itu juga berkata, “kami akan mempertahankan hak kami.”

Kepada orang-orangnya pedagang itu berteriak, “lanjutkan perjalanan. Kita membawa milik kita sendiri. Jika Kepala Tanah Perdikan akan merampok milik kita, maka kita akan mempertahankannya. Apapun yang akan terjadi.”

Para pengawal pedati itupun segera mempersiapkan diri. Jumlah mereka memang cukup banyak.

Namun Ki Bekel masih berkata, “Tahan dahulu. Kenapa kita harus mempergunakan kekerasan?”

“Tergantung kepada para pedagang gelap itu Ki Bekel. Tergantung pula kepada Ki Bekel dan para bebahu Kademangan Jerukgede. Apakah kami harus mempergunakan kekerasan atau tidak,” jawab Risang.

Tetapi yang menyahut adalah pedagang gelap itu, “Aku tidak peduli. Tetapi kami tidak mau dirampok, apalagi oleh seorang Kepala Tanah Perdikan.”

Risang tidak menjawab lagi. Iapun segera memberi isyarat pula kepada para bebahu yang menyertainya, yang masih menunggu perintah.

Demikian isyarat itu mereka terima, maka para bebahu itupun segera mulai bergerak. Mereka berjalan di sepanjang bibir padukuhan mendekati iring-iringan pedati yang terhenti itu.

Pedagang gelap itu melihat keadaan yang nampaknya akan menjadi semakin buruk. Karena itu, maka iapun segera berteriak, “Bawa milik kita ke seberang perbatasan. Orang-orang Jerukgede lebih mengenal tatanan perdagangan daripada orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.”

Tetapi Risang, para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan serta para bebahu segera mempersiapkan diri. Mereka telah berdiri berderet di perbatasan. Meskipun jumlah mereka tidak banyak, tetapi mereka benar-benar telah bersiap untuk mencegah arus perdagangan gelap itu.

Sementara itu, beberapa orang pengawal Tanah Perdikan sendiri yang terlibat dalam perdagangan itu menjadi bingung. Seharusnya mereka ikut mengamankan bahan pangan itu sampai lewat perbatasan. Namun ketika mereka mengetahui bahwa Kepala Tanah Perdikan Sembojan sendiri yang ada di perbatasan, maka rasa-rasanya mereka kehilangan keberanian untuk melakukannya.

Karena itu, sebelum segala sesuatunya terjadi, maka pengawal kepercayaan Gandar yang berada di antara para pengawal yang telah terbius oleh uang itu telah menyebarkan gagasannya, “Kita lebih baik menghindar dari benturan kekerasan ini. Apakah kita akan melawan para pemimpin kita sendiri? Bahkan mungkin kawan-kawan kita yang dapat dikerahkan oleh Kepala Tanah Perdikan kita jika mereka merasa memerlukannya.”

Para pengawal yang terlibat itu memang ragu-ragu. Tetapi seorang di antara mereka berkata, “Kita sudah mereka bayar untuk ikut mengamankan bahan pangan ini sampai ke seberang perbatasan.”

Kepercayaan Gandar itu berkata, “Tetapi kita kini telah gagal. Ternyata iring-iringan ini telah berhasil disergap. Siapapun yang menang dalam benturan kekerasan ini, kita akan mengalami kesulitan jika kita tetap berada disini. Jika para pedagang itu menang dan berhasil menyeberang, kita tentu dituduh tidak mampu melindungi mereka sehingga rahasia mereka dapat diketahui oleh Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Nasib kita tentu akan seperti dua orang yang sudah terbunuh itu, sementara kita tidak akan dapat minta perlindungan kawan-kawan kita karena dengan demikian mereka akan mengetahui bahwa kita telah terlibat dalam perdagangan gelap. Sebaliknya jika para pemimpin Tanah Perdikan ini yang menang, sementara kita berada disini, maka kitapun akan ditangkap dan dianggap sebagai pengkhianat.”

Ternyata gagasan itu dapat diterima oleh para pengawal yang telah terlibat. Sehingga karena itu, maka mereka yang sebagian masih berada di antara pedati-pedati yang berderet terhenti di dalam halaman rumah yang luas itu, berusaha untuk dengan diam-diam meninggalkan tempat itu. Mereka telah memberitahukan pula kepada kawan-kawan mereka yang sudah berdiri di luar halaman dan bahkan ada di antara mereka yang sudah bersiap untuk ikut melindungi bahan pangan itu.

Dengan demikian, maka satu demi satu para pengawal itu dengan diam-diam meninggalkan tempat penimbunan bahan pangan itu.

Sementara itu para pedagang gelap yang memimpin pengangkutan bahan pangan itu telah memerintahkan orang-orang itu melindungi pedati-pedati yang akan melanjutkan perjalanan.

Dalam pada itu, dua orang yang agaknya juga termasuk sebagai pedagang gelap itu bergerak mendekati para pemimpin dari Tanah Perdikan itu. Keduanya terkejut. Dalam keremangan malam di tempat terbuka, maka keduanya merasa sudah pernah bertemu dengan anak muda yang disebut sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu.

Selagi orang itu termangu-mangu, maka tiba-tiba saja Sambi Wulung bertanya, “Kenapa kau memandang Kepala Tanah Perdikan Sembojan seperti itu?”

Orang itu tidak segera menjawab. Namun Risanglah yang berkata, “Kita memang pernah bertemu.”

“Jadi kau Kepala Tanah Perdikan ini anak muda?” bertanya seorang di antara mereka.

“Sekarang kau tidak akan menertawakan kuda kami lagi,” sahut Jati Wulung.

Kedua orang itu mengangguk-angguk. Namun seorang di antara mereka segera berkata kepada kawannya yang telah mengisyaratkan untuk melanjutkan perjalanan, “Kita memang tidak mempunyai pilihan lain kecuali melindungi hak milik kita dengan cara apapun.”

Sebenarnyalah, maka pedagang gelap yang datang bersama Ki Bekel itu telah meneriakkan aba-aba, agar pedati-pedati itu mulai bergerak.

Tetapi pada saat yang bersamaan, seorang bebahu Tanah Perdikan dengan tangkas telah meloncat ke depan pedati yang berada di perbatasan, menarik dan berusaha memutar arah pedati itu kembali ke Tanah Perdikan.

Namun seorang pengawal perdagangan gelap itu telah meloncat menyerangnya. Untunglah bahwa bebahu yang lain melihatnya, sehingga ia sempat memotong serangan itu.

Demikianlah maka pertempuranpun mulai menyala. Para pedagang gelap beserta pengawalnya segera menyerang orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Mereka menyadari, bahwa waktunya tidak terlalu banyak. Sementara pertempuran berlangsung, mereka harus sudah membawa pedati-pedati itu ke seberang, sehingga jika para bebahu itu memanggil para pengawal, pedati-pedati itu sudah berada di seberang.

Ternyata para pengikut pedagang-pedagang gelap itu cukup banyak. Mereka berlari-larian membantu kawan-kawan mereka yang sudah terlibat dalam perkelahian.

Namun ada juga yang teringat kepada para pengawal Tanah Perdikan sendiri yang telah mereka bayar untuk membantu mengamankan penyeberangan bahan pangan itu. Tetapi mereka sudah hilang ditelan gelapnya malam.

“Orang-orang Tanah Perdikan itu telah berkhianat,” teriak salah seorang pedagang gelap itu. “Kita sudah membayar mereka dengan upah yang tinggi. Tetapi dalam keadaan seperti ini mereka telah menghilang.”

Para pedagang gelap serta pengikutnya itupun mengumpat-umpat. Tetapi mereka tidak dapat sekedar marah-marah. Di hadapan mereka para pemimpin dan bebahu Tanah Perdikan Sembojan telah mulai bertempur.

Demikianlah, maka pertempuran itupun segera meluas. Para pedagang gelap itupun segera menyerang Risang dan para pemimpin yang lain. Orang yang pernah mengejek kuda-kuda Risang. Sambi Wulung dan Jati Wulung telah melibatkan diri pula dalam pertempuran itu. Seorang di antara mereka, yang bertempur melawan Risangpun berkata, “Kau ternyata seorang pembohong.”

“Kenapa?” bertanya Risang.

“Kau tidak berani mengaku, bahwa kau adalah Kepala Tanah Perdikan Sembojan pada waktu itu.”

“Aku menganggap bahwa hal itu tidak perlu. Tetapi ternyata kita sekarang bertemu lagi. Dalam keadaan seperti ini, maka aku harus mengatakan siapakah aku sebenarnya.”

“Kenapa waktu itu kau tidak mengaku bahwa kau adalah Kepala Tanah Perdikan Sembojan.”

“Buat apa aku berceritera tentang kedudukanku kepada orang-orang yang bertemu di perjalanan? Apakah aku harus dengan menengadahkan kepalaku berkata, aku adalah Kepala Tanah Perdikan.”

“Bohong. Kau memang pembohong dan juga penakut. Kau takut bertanggung jawab atas jabatan yang kau emban.”

Risang tidak menjawab. Orang yang sedang kecewa dan marah dapat berkata apa saja. Tetapi ia tidak perlu menghiraukannya.

Bahkan Risang telah mulai menyerang orang itu agar orang itu tidak lagi banyak berbicara.

Demikianlah, maka pertempuranpun menjadi semakin sengit. Para bebahu segera mengerahkan kemampuan mereka. Namun ternyata bahwa lawan memang terlalu banyak. Sehingga dengan demikian, maka para bebahu itupun mulai terdesak.